50 TAHUN MENGARUNGI ZAMAN

02-07-2014
Sebuah perjalanan panjang,dimulai dari satu langkah kecil
(Leo Tolstoy)                                                                   

Berada pada bagian dari sebuah perjalanan panjang dunia pendidikan, merupakan anugerah tersendiri. Jika perjalanan panjang tersebut merupakan perjalanan yang mulia dan terberkati, maka kita seperti para peziarah kehidupan yang mengarungi zaman, mengalir bersama sang waktu.

Demikian pula kehadiran lembaga pendidikan SMAK Santo Yoseph Denpasar, seperti para peziarah kehidupan, ia kini berada di jejak kaki yang ke-lima puluh tahun.           

Adalah sebuah keniscayaan bahwa usia sekolah yang setengah abad dan masih eksis menjadi suatu bukti, betapa perjuangan, pengorbanan, keberhasilan bahkan duka lara  telah menjadi spirit tersendiri selama lima puluh tahun ini, bagi sekolah tercinta.

Ibarat cermin, usia lima puluh tahun – terlebih bagi sebuah lembaga pendidikan - menjadi  sebuah refleksi diri atas segenap keberhasilan yang diraih serta kekurangan yang telah dilakoni. Lalu, seperti apa wajah sekolah dalam lingakaran usia emas ini? Kita akan menelusuri jejaknya…
 
Masa SWASTIASTU; separuh zaman yang penuh dedikasi
 

Sejarah telah mencatat, SMAK Santo Yoseph (dahulu SMAK Swatiastu)  berdiri pada tanggal 01 Agustus 1964. Tanggal ini ditentukan sejak hari pertama masuk sekolah  tahun ajaran baru saat itu. SMAK berdiri di bawah naungan Yayasan Swastiastu (Yayasan Swastiastu  berdiri tanggal 15 Agustus 1958 dengan Akta Pendirian tertanggal 27 Agustus 1958). SMAK ini didirikan oleh Romo Dr.Herman Embuiru,SVD (alm) Ketua Yayasan saat itu, serta restu Uskup Denpasar Y.M. Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden,SVD (alm). Selain beliau berdua, pendirian SMAK didukung pula oleh tokoh-tokoh umat antara lain Mayor Cokorda Gde Yohanes Maria Oka Sudharsana (alm) salah satu kerabat Puri Ubud.

Pada awalnya sekolah memiliki 20 orang murid serta didukung oleh 23 orang guru. Selama setahun,karena adanya mutasi/perpindahan dari Denpasar dan sekitarnya dan dari luar Bali khususnya Jawa (anak-anak pegawai negeri dan TNI) jumlah murid mencapai 45 orang di akhir tahun ajaran 1964/1965.  Murid angkatan pertama ini di antaranya Bapak Daniel Bahari ayahnda dari Pino,Nemo dan Daudy Bahari, para petinju Bali.

Saat gedung SMAK pada lokasi sekarang ini sedang dibangun, maka tahun pertama, SMAK masih menumpang di gedung SMPK Swastiastu yang lama, lokasi yang sekarang ditempati oleh SD Santo Yoseph 2. Tahun kedua SMAK selesai dibangun dengan bentuk bangunan megah untuk saat itu,serta dihiasi oleh tempelan batu paras. Ketika itu, pada dinding kiri tempelan batu paras ( tepatnya di gang masuk di atas majalah dinding), terpampang ukiran papan prasasti dari kayu dengan tulisan “ DIOCOESI SANCTI HYPOLITY GRATIAS AGENTES SANTI JOSEPHI COLEGII DISCIPULL SESE “  yang kurang lebih berarti “ Rahmat mewakili para kudus, semoga para kudus memberkati sekolah Santo Yoseph”.

Kalau pada tahun pertama jumlah murid 20 orang serta berkembang menjadi 45 di akhir tahun pelajaran, maka pada tahun kedua, siswa kelas I dan kelas II ( 1965-1966) berjumlah 136 orang dan terus berkembang. Pada tahun ajaran 1975 jumlah kelas sebanyak 12, dengan rincian kelas 1 ada 4 kelas, kelas 2  ada 4 kelas (2 kelas IPA dan 2 kelas IPS) dan kelas 3  juga 4 kelas (2 kelas IPA dan 2 kelas IPS).

Mulai tahun 1976,jumlah siswa kelas I bertambah menjadi 5 kelas, dan begitu seterusnya setiap tahun mengalami peningkatan. Maka gedung lama yang dibangun tahun 1964 sudah tidak dapat lagi menampung jumlah siswa. Mulailah diberlakukan kelas sore. Mulanya siswa kelas 2 yang sekolah sore, lalu diganti siswa kelas 1. Mengatasi persoalan semakin banyaknya minat masyarakat menyekolahkan anaknya ke sekolah ini, akhirnya mulai dibangun gedung baru (gedung di belakang aula yang mulai dipakai pada tahun 1981). Gedung lamapun mulai dipugar, pada tahun 1983 kuda kuda seluruh gedung diganti kayunya karena mulai lapuk. Di akhir tahun 1980-an gedung selatan dibongkar dan dibangun gedung berlantai 3. Di bagian barat yang tadinya merupakan lokasi kamar mandi / WC, pada awal tahun 1990-an dibangun laboratorium. Selanjutnya, dibangun di sebelah Utara laboratorium dibangun gedung baru pada awal tahun 2000-an, yang tadinya merupakan tempat parkir. Akhirnya tersisia gedung lama yaitu,ruang tata usaha dan ruang koperasi, ruang kepala sekolah, ruang guru serta kelas I.1/2.3 serta I.2/2.4. Dan pada tahun 2009, gedung lama yang tersisa dipugar, dibangun gedung baru berlantai 4, seperti yang kita tempati hingga saat ini.

Pertumbuhan siswa pun sangat signifikan, mencapai puncaknya pada tahun pelajaran 2000-2001 dengan jumlah siswa 1543 orang. Saat ini di tahun pelajaran 2013/2014, jumlah siswa…

Selama 50 tahun sekolah ini telah mengalami 12 kali pergantian kepala sekolah. Ada 5 biarawati/ suster-suster Fransiskanes yang memimpin sepanjang tahun 1964 – 1975. Mulai tahun 1975 dipegang oleh 7 kepala sekolah dari kaum awam, tentu saja dengan gaya kepemimpinan masing-masing, dan kesuksesannya masing-masing pula.

Tentu saja, di paruh pertama usia setengah abad ini, berbagai prestasi telah diraih oleh para siswa, dengan bimbingan dan tuntunan dari pihak guru. Salah satu hal yang istimewa adalah  pada tahun 1975. Tahun ini pertama kali diselenggarakan Paskibraka Nasional, yang terpilih mewakili Bali untuk putri dan kemudian menjadi pembawa bendera pusaka pada upacara bendera memperingati hari proklamasi di Istana Merdeka, adalah siswi SMAK Swastiastu bernama Ida Ayu Rianawati Manuaba, putri Bapak Prof.Drs.Ida Bagus Adnyana Manuaba

Sekolah ini pun tidak terlepas dari kegiatan siswa-siswinya yang tergabung dalam dalam satu organisasi, yakni OSIS. Sebagai satu-satunya organisasi resmi di sekolah, maka OSIS merupakan wadah untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan kesiswaan. OSIS dimulai tahun 1973 yang ditetapkan oleh pemerintah untuk semua sekolah. Sebelumnya organisasi yang ada adalah PPSK (Persatuan Pelajar Sekolah Katolik) yang dibentuk pada semua persekolahan Katolik di Indonesia. Sehingga pada saat pemerintahkan menetapkan keberadaan OSIS, maka PPSK SMAK Swastiastu yang saat itu diketuai oleh Albert Singgih, langsung menjelma menjadi OSIS SMAK Swastiastu.

Sejak bulan Agustus 1983, mulai dibentuk MPK ( Majelis Pemusyawaratan Kelas) yang merupakan lembaga legislatif OSIS sedangkan eksekutifnya dinamakan Kepengurusan OSIS. MPK mulai terbentuk pada masa kepemimpinan Bapak. Drs. Piet Wayan Lamun. Anggota MPK berasal dari perwakilan kelas, masing-masing sebanyak 2 orang. Tugas utama MPK adalah memilih ketua OSIS. Kegiatan OSIS cukup berkembang dengan baik dan dalam pendampingan, telah memberikan banyak prestasi dalam setiap lomba, pertandingan maupun berbagai bentuk kegiatan kreatif lainnya. Semua itu, sungguh berdampak positif bagi kemajuan sekolah tercinta.

Pada masa 25 tahun pertama, sekolah menjalani hari-harinya, melangkah bersama sekolah lainnya di kota Denpasar, dalam kesederhanaan ruang dan waktu. Pada kurun waktu itu, dedikasi para guru terhadap sekolah terpatri kuat, sehingga sekolah betul-betul menjadi sekolah yang sangat diapresiasi oleh masyarakat maupun pemerintah. Kedisiplinan, prestasi cemerlang telah menjadi ikon sekolah ini. Hampir tidak ada yang tidak mengenal sekolah SWASTIASTU. Siapapun merasa kagum dan salut mendengar kebesaran nama ini. Bagi masyarakat yang menyekolahkan anak-anaknya adalah sebuah kebanggaan sekaligus memberi prestige tersendiri, karena masyarakat mengenal sekolah ini sebagai sekolah yang mahal tetapi berkualitas. Jadi, mereka sebagai konsumen, tidak pernah berhitung untung atau rugi, karena mereka mendapatkan kualitas yang baik untuk anak-anaknya, terutama kedisiplinan dan pembentukan karakternya. Terbukti pula, banyak sudah alumni SMAK Swastiastu yang menjadi orang hebat dan menduduki jabatan penting di elite pemerintahan.
 
Masa SANTO YOSEPH; Generasi Emas Sanjose….
 
 
 
Seperti rotasi benda langit, matahari, bulan dan bintang, seperti itulah perjalanan panjang dunia pendidikan di SMAK Santo Yoseph Denpasar. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, tidak terasa kini berada pada tahun emas, tahun ke-50 sejak didirikannya sekolah ini. “ Jangan tanya apa yang telah sekolah berikan kepadamu, tapi tanyalah, apa yang telah engkau berikan untuk sekolah.” Kata-kata yang menyitir ungkapan tokoh dunia pada masanya itu, sepertinya pantas dikemukakan lagi, untuk menggugah apa yang bisa  kita - para guru dan seluruh karyawan- berikan,  untuk tetap terjaganya reputasi, nama baik dan prestige SMAK Santo Yoseph Denpasar.

Bukan hal yang mudah untuk mampu bertahan hingga di usia yang ke-50 tahun ini. Bila dihitung paruh kedua perjalanan sekolah ini, sejak 1989-2014, telah berganti sebanyak 7 kepala sekolah, dengan karakter serta gaya kepemimpinannya masing-masing. Tentu ada saat-saat mendung yang dialami sekolah ini, ada pula saat-saat di mana rona pelangi memayungi langit sekolah, setelah hujan menghampiri.

Kejadian paling kelam adalah saat sekolah ini mengalami ketidaklulusan siswa di Ujian Nasional pada tahun pelajaran 2005/2006, mencapai rekor sebanyak 82 siswa. Sangat mengejutkan semua pihak, tidak hanya guru di SMAK saja, tapi seluruh sekolah di lingkungan Santo Yoseph mengalami kemirisan. Ada apa? Mengapa bisa terjadi? Berbagai kecamuk pertanyaan menghampiri, tapi fakta tetaplah fakta, dan realita yang memang harus terjadi. Karena pendidikan adalah sebuah sistem, maka ketidaklulusan yang demikian banyak disebabkan oleh berbagai factor, sehingga tidak layak untuk saling menyalahkan.

Berangkat dari pengalaman itulah, maka seluruh komponen sekolah lebih berbenah lagi. Pengalaman pahit tersebut ibarat sebuah teguran, agar tidak terlena pada nama besar dan kepuasan diri, bahwa sekolah ini sepertinya tidak ada saingan.

SMAK Santo Yoseph memasuki gerbang usia 50 tahun tentu memasuki era yang sangat berbeda. Orang banyak menyebut zaman ini adalah Era Globalisasi. Pergaulan dunia sangat permisif. Orang bisa melakukan apapun dan dengan cara apapun. Jika tidak bisa mengantisipasi dengan baik dan benar, bukan tidak mungkin kita akan didikte oleh pihak luar. Maka sekolah beserta seluruh komponen di dalamnya, memerlukan kiat-kiat tersendiri untuk tetap bisa berada, berjaya dan berdiri kokoh sekarang dan selamanya, bahkan hingga akhir zaman, tapi tetap menjaga spirit Katolisitas.

Menjadi bagian dari era digital telah membuat perbedaan yang sangat signifikan, antara murid masa awal sekolah ini berdiri dengan murid-murid saat ini. Mereka layak disebut generasi emas, yang hidup dalam kilau dan gemerlap dunia serba dimudahkan dan praktis, karena kemajuan teknologi. Tentu harus ada perbedaan sudut pandang serta cara menyikapi para murid pada zaman ini. Pun, tuntutan terhadap para guru juga mengikuti arus perubahan zaman. Guru juga dituntut menguasai teknologi. Saat ini, sumber belajar sudah dari berbagai arah. Peserta didik sudah dengan sangat mudah mencari referensi lewat dunia maya, browsing info lewat google, menjadi sebuah keniscayaan, dan para guru tidak bisa mengingkari kenyataan ini. Untuk itulah, perlu perubahan pola pikir berada dan menjadi guru di usia emas SMAK SantoYoseph ini.

Hubungan sosial guru dengan murid di awal sekolah ini berdiri pun sangat berbeda. Pada saat ini, lebih pada pendekatan ‘pertemanan’, artinya, siswa zaman ini bisa diajak dialog, diskusi kalau mereka ditempatkan pada posisi sebagai teman, sehingga pembicaraan bisa lebih berkualitas. Memahami dunia mereka yang sangat berbeda dengan dunia ketika guru-guru seusia mereka, juga mempengaruhi perlakuan kita. Maka dibutuhkan kebijakan untuk menyelesaikan masalah yang ada. Dunia yang serba permisif, menyebabkan pula masyarakat begitu mudah untuk memejahijaukan masalah yang mungkin ada. Menghindari hal-hal tersebutlah, maka diperlukan kecerdasan dalam sikap dan tutur kata, menghadapi para peserta didik.

Memasuki masa emas ini, kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan tentu sangat berbeda.. Mengenang kejayaan masa lalu sah-sah saja, tetapi kita pun dituntun untuk bisa menyelaraskan langkah dengan masa kini. Saat inilah dibutuhkan komitmen untuk tetap berada pada visi dan misi sekolah yang mengikuti zaman. Bersaing dengan sekolah yang mulai memikirkan kualitas proses pembelajaran seperti ; satu kelas maksimal 30 siswa, ruang ber-AC, proses pembelajaran dengan perangkat digital, agaknya penting menjadi pemikiran lebih lanjut, sehingga SMAK Santo Yoseph ini, masih bisa kokoh berdiri mencerdaskan anak bangsa, melahirkan generasi emas SANJOSE hingga 25 tahun atau 50 tahun lagi, bahkan selama-lamanya.

Menjadi bagian dari peringatan dan perayaan tahun emas sekolah ini, merupakan sebuah kebahagiaan serta kegembiraan tidak terkira, bagi seluruh siswa, guru dan karyawan yang masih aktif saat ini. Hormat dan takzim pada seluruh pendahulu; para kepala sekolah, para guru yang telah menyumbangkan ide-ide cemerlangnya, serta sikap-sikap cerdasnya, sehingga sekolah ini telah berhasil mengantarkan para alumni menjadi bagain dari para pemikir bangsa baik dalam lingkup nasional maupun nasional, serta sukses dalam segala lini kehidupan.
 
Menaruh harapan bernas bagi semua pihak; peserta didik, guru, karyawan, orang tua, yayasan, serta para pemerhati pendidikan, untuk selalu bergandeng tangan, saling menguatkan, dan mendukung dalam balutan pikiran positif, sehingga bahtera nan megah bernama SMAK Santo Yoseph Denpasar, tetap tenang melaju mengarungi samudera kehidupan dunia pendidikan, berlayar mengarungi zaman. (Luh Putu Udayati)
Berita Lainnya
Agenda
E-Learning
Info Alumni
Statistik
Ikuti Kami
Akademik Fasilitas Ektrakurikuler Artikel Hubungi Kami Login Siswa

© 2013 SMA K Santo Yoseph Denpasar developed by vertico Indonesia. All rights reserved